halaman

Minggu, 13 Desember 2015

pengembangan peserta didik 10


Pada periode ini tumbuh kesadaran akan kemampuan diri. Perbedaan tipe individual makin tampak. Anak yang berbakat cenderung akan melanjutkan kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni akan berlangsung terus dalam kehidupan. Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari.

 Dari pemaparan di atas merupakan salah satu hal yang perlu kita ketahui sebagai orangtua, guru, mahasiswa dan untuk semua kalanyan agar kita dapat memahami dan

Gambar 1 karya komang novita arsatianingsih usia 15 tahun
 

Gambar 2 karya riski maulana usia 15 tahun
 
 

menganalisis gambar bukanlah hal dimana kita menilai dan mengkritik hasil gambar anak melaikan sebuah proses dimana kita mencoba melihat dan memahami lebih dekat bagaimana proses menggambar dari anak serta apa yang ingin disampaikan oleh anak tersebut melalui gambar yang dia buat. untuk itu dimulai dengan membahas gambar pertama dimana tema yang dibuat dalam gambar ini adalah pemandangan walaupun objek dari gambar ini sama dengan objek yang di gambar oleh anak usia 12 tahun namun terdapat perbedaan dari gambar ini yaitu goresan dari anak ini lebih lentur dan teraah dpat dilihat dari gambar gunung yang ditampilkan tidak kaku dselain itu sawah yang di gambar berkesan bertingkat dan jalan lebih tinggi daripada sawah, namun sayangnya dalam gambar ini tidak tidak menggunakan warna dan hasnya menggunakan pensil dalam hal pewarnaannya.

selanjutnya pada gambar ke dua adalah gambar karikatur dimana melalui gambar ini kita bisa melihat adanya pemikiran lebih dari anak tersebut mengenai realita yang dia liahat di sekitarya selah satunya melalui televise maupun melalui internet dimana anak ini menggambarkan suara rakyat yang mengingatkan dan meminta hak mereka dengan cara demonstrasi,yang menuntut agar pemimpin tidak memakan uang rakyat, melalui gambar ini terlihat perbedaan pada objek manusia dimana pemimpin digambarkan dengan ukuran yang besar sedangkan rakyat dengan ukuran yang kecil. untuk mendukung cerita dari gambar ini dibuatlah gedung dan ikon lenmark dari ibukota Negara dimana tempat para pemimpin berada.

dari gambar diatas dapat disimpulkan pada usia ini anak mulai melihat realita yang terjadi disekitarnya, dan ikut terlibat dalam melihat isu-isu disekitarnya sehingga objek yang di gambar lebih kearah fenomena yang sedang berkembang pada saat itu . sehingga kebanyakan gambar anak berupa kritikan dan mulai realis sesuai dengan kenyataan.

 

pengembangan peserta didik 9


Gambar selanjutnya yang akan saya bahas adalah karya anak usia 11 dan 12 tahun yang masuk dalam Masa Naturalistik Semu, Masa ini dikatakan sebagai usia berfikir dimana pada umumnya anak senang berkarya dan pada akhirnya dari aktifitas yang sepontan menjadi awal dari periode berfikir artinya anak mulai menjadi kritis terhadap karya sendiri, dimana anak tidak lagi menggambar apa yang diketahui melainkan apa yang di lihatnya. Pada masa ini juga terdapat gejala adanya dua kecendrungan yaitu tipe visual yaitu tipe anak yang mempunyai ketajaman menghargai sesuatu yang ia lihat dan nonvisual merupakan tipe anak yang selalu mengungkapkan sesuatu sesuai dengan emosinya. 

Sama dengan konsep gambar yang telah dibahas sebelumnya, pada masa ini anak menunjukkan kemampuan berfikir abstrak serta kesadaran sosialnya makin berkembang. Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan terhadap karyanya sendiri. Pengamatan kepada objek lebih rinci. Tampak jelas perbedaan anak-anak bertipe haptic dengan tipe visual. Tipe visual memperlihatkan kesadaran rasa ruang, rasa jarak dan lingkungan, dengan fokus pada hal-hal yang menarik perhatiannya. Penguasaan rasa perbandingan (proporsi) serta gerak tubuh objek lebih meningkat. Tipe haptic memperlihatkan tanggapan keruangan dan objek secara subjektif, lebih banyak menggunakan perasaannya. Gambar-gambar gaya kartun banyak digemari.

Gambar 1 karya I putu reppa rahina dhita usia 11 tahun
 
 
Gambar 2 karya putu rara aprinala usia 11 tahun



Gambar 3 karya gede mertayasa usia 11 tahun
 

Gambar 4 karya kadek mas satya wahyudi usia 12 tahun
 

sesuai dengan teori perkembangan seni rupa anak pada masa ini anak sudah mulai berfikir abstrak dan memiliki kesadaran social sehingga dalam karyanya sudah mulai terlihat penguasaan rasa perbandingan dapat dilihat dari karya-karya anak di atas. mulai dari karya pertama dimanakarya ini menceritakan seekor anjing yang menggonggong di tengah jalan, gambar ini menggunakan krayon sebagai alat warnanya sehingga tercipta gambar dengan warna yang cerah, dengam melihat lingkungan sekitar anak tersebut sudah menambahkan objek gedung pada gambarnya kemudian pohon yang di potong pada bagian kiri dan kanan gambar anjing, dalam hal pewarnaan sudah merata dan rapi selain itu terdapat gradasi warna baik pada rumput, langit, gedung, pohon jalan dan anjing. amak ini dapat dikatakan kreatif karena menggunakan warna yang berfariasi dan mulai mencoba membuat objek sesuai kenyataannya.

Gambar ke dua merupakan gambar batik yang mengambil bentuk stilirisasi, dari Bunga yang di susun rapi, pada pembuatan gambar ini telah terlihat proses pewarnaan yang mulai teratur dan rapi walaupun dalam gambar ini hanya menggunakan tiga warna yaitu hijau, merah, dan biru. gambar yang di dominasi oleh warna hijau. dari gambar ini dapat dilihat adanga kesadaran mengenai budaya dan fasion dari anak ini karena dia sangat tertarik dengan batik yang merupakan kain khas Indonesia sehingga dia mulai membuat desain beberapa macam batik dengan mengambil objek alam.

gambar selanjutnya mengambil objek minion yang merupakan salah satu tokoh kartun dan pada gambar ini di gabungkan dengan memberikan tulisan naman dari anak tersebut sehingga tercipta gambar seperti desain baju atau sablonan pada baju, kreatifitas anak ini sudah mulai terihat dalam hal desain pakaian pria pada distro yang mengambil objek tokoh kegemaran anak-anak yang dipadukan dengan sesemikian rupa agar lebih menarik, dalam hal pewarnaan sudah merata dengan tiga jenis warna.
pada gambar yang terakhir merupakan gambar anak 12 tahun objek yang digambar adalah kalajengking, objek ini dipilih karena zodiac dari anak ini adalah scorpio, walaupun tidak menggunakan warna, bisa dilihat ketegasan garis dari gambar ini selain itu keinginan menggambar sesuai dengan objek aslinya sudah mulai terlihat pada gambar ini dan ketertarikan dengan streat art juga sudah mulai Nampak pada gambar ini
dari gambrat diatas dapat disimpulkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak juga mempengaruhi karya seni dalam hal ini gambar mereka dimana imajinasi anak-anak dalam menggambar sudah mulai mengeksplor lingkungan dan lebih melihat lingkungan dalam hal menggambar sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. melalui gambar kita juga bisa melihat kepribadian serta minat dan bakat dari anak-anak.    

 

pengembangan peserta didik 8


Pada postingan ini saya akan membahas karya anak usia 10 tahun yang masuk dalam masa realism awal (Early realism)

Masa ini di tandai dengan adanya kebebasan social diamana anak mulai membedakan diri dengan orang dewasa dan membentuk kelompok-kelompok sebaya, itu disebabkan karena anak mulai menyadari bahwa ia juga merupakan salah satu anggota dari suatu masyarakat yang terdiri atas anak-anak seusianya. Sehingga muncullah kelompok dengan teman sebayanya yang semakin meningkat yang sering menjadi penyebab munculnya kenakalan anak memuncak, menyebabkan anak mengalami kegoncangan yang sering terlihat pada hasil gambarnya.

 Realisme bukan di artikan meniru alam yang tepat, tetapi sebagai usaha untuk konsep visual anak-anak yang masih memandang secara subyektif. Jadi gambarnya belum sesui benar dengan obyek.

 Gambar 1 karya kadek sayta ananda

 
Gambar 2 karya luh wira ariani


Dari kedua gambar diatas memiliki dua buah tema yang berbeda dimana gambar pertama bertema pemandangan dan gambar ke dua bertema rumah, gambar pertama karya kadek satya ananda dimana ia menggambarkan satu buah gunung yang berwarna hijau kemudian di depannya terdapat sungai yang tiba-tiba muncul dari gunung menuju kolam yang berisikan batu, teratai dan ikan, kemudian di pinggir sungai tersebut terdapat padang rumput dengan banyak bunga, sesuatu yang menarik dari gambar ini adalah sungai dan gunungnya apabila kita lihat dari jauh akan kelihatan seperto sebuah botol yang berisi ikan dan lampu tidut yang memiliki tutup seperti paying, dari segi objek yang di gambarkan anak ini cukup imajinatif dalam membuat gambar pemandangan, dali segi goresan dan pewarnaan sudah mulai tearah  namun masih minim warna seperti terlihat pada gambar, namun pada bagian gunung dan padang rumput tidak terdapat objek lain yang memisahkan sehingga terlihat gunung menyatu dengan padang rumput dan objek lainnya.

gambar kedua merupakan karya luh wira ariani dengan tema rumah menurut saya yang menarik dari gambar ini adalah terdapat objek focus pada gambar ini yaitu rumah tang terletak di bagian tengah gambar kemudian kesan dari gambar ini iyalah seperti sebuah foto yang dikarenakan gambar dua buah pohon yang berada di kanan dan kiri kertas bentuknya yang Cuma setengah sehingga terkesan seperti foto kemudaian jalan yang berada di depan rumah secara umum dilihat sebagai jalan aspal yang memberikan asumsi tempat lalu lalang kendaraan namun bagi anak yang menggambar itu adalah jalan biasa kemudian tanaman dan bunga pada bagian belakang rumah terkesan jauh, selain itu pada objek matahari yang terlihat tersembunyi dibalik awan yang muncul hanya sedikit membuat muncul pertanyaan mengapa tidak ada terlihat bagian bawah dari matahari tersebut jika dilihat dari ukurannya, itu semua adalah imajinasi dari setiap orang yang berbeda-beda dalam membuat sebuah gambar yagng menarik dan kreatif. dari sedi goresan pada gambar ini juga sudah mulai terarah namun dari segi objek yg di gambarkan masih sedikit.

Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan menggambar pada anak-anak banyak sekali teknik yang bisa kita jumpai yang bahkan kita sebagai orang dewasapun masih melakukan hal tersebut. baik dalam warna maupun objek yang di gambar.

pengembangan peserta didik 7


Kegiatan menganalisis gambar ini sangat penting untuk dilakukan guna mengetahui perkembangan psikologis anak. Beberapa konsep yang dikemukakan oleh beberapa ahli menunjukkan bahwa periodisasi perkembangan anak memiliki tahapannya masing-masing. Namun tidak semua anak mengalami perkembangan yang sama. Kegiatan menggambar merupakan salah satu media untuk mengembangkan kreativitas anak. Bagi sebagaian anak yang menyukai kegiatan menggambar melakukan kegiatan menggambar sama halnya dengan bermain. Mereka akan merasa senang dan tanpa sadar akan menghasilkan beberapa gambar sekaligus

pada kesempatan ini saya akan menganalisia gambar anak usia 7-9 tahun yaitu  Masa Bagan (schematic Period)
Dimana pada asa ini Konsep bentuk sudah mulai tampak jelas dimana anak bertambah teliti dan dia telah tahu hubungan alam sekitarnya dengan dirinya selain itu anak juga masih mengulang bentuk serta gambar yang di hasilkan masih berkesan datar dan berputar atau rebah dan pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak
Menurut  pandangan Max Verworm (Zulkifli, 2002: 45) bahwa anak menggambar benda-benda menurut apa yang dilihatnya. Hasil karya anak-anak itu disebutnya gambar fisioplastik. Anak yang belum berumur 8 tahun belum mampu menggambar apa yang dilihatnya tetapi mereka menggambar maenurut apa yang sedang dipikirkannya. Hasil karya mereka itu disebut gambar ideoplastik.

Pada masa ini juga, kadang-kadang dalam satu bidang gambar dilukiskan berbagai peristiwa yang berlainan waktu. Hal ini dalam tinjauan budaya dinamakan continous narrative, anak sudah bisa memahami ruang dan waktu. Objek gambar yang dilukiskan banyak dan berulang menggambarkan sedang dilakukan.

 
Gambar 1 karya komang wulan putri sena usia 8 tahun              


Gambar 2 karya ketut yunita tri antari usia 8 tahun


kedua gambar ini di gambar oleh anak dengan usia yg sama, dari kedua gambar ini dapat dilihat perbedaan pada pemenuhan bidang gambar dengan onjek maupun warna  pada gambar pertama masih terdapat banyak bidang yang kosong, selain itu objek yang di gambar berbaris rapi  dan sejajar, yang menarik dari gambar ini adalah penggunaan gradasi pada onjek yang di gambarkan selain itu pada pot Bungan yang di gambar berbentuk segi tiga karena bagi orang dewasa pot berbentuk segi tiga adalah bentuk yang tidak realis dan sesuai kenyataannya tapi bagi anak-anak itu adalah sesuatu yang menarik karena lebih mudah bagi mereka untuk menggambarnya. selanjutnya gambar yang ke dua menceritakan sekolah yang memiliki kolam ikan seperti pada pembahasan gambar sebelumnya pada gambar ini juga terdapat pola menggambar menggunakan penggaris dan mewarnai secara acak, yang menarik dari gambar ini adalah terdapat objek sepasang anak dan anak laki-laki pada gambar ini memegang bunga yang memberikan kesan akan memberikannya kepada si gadis, selain itu objek manusia yang di gambar teidak proporsional karena memang sesuai dengan usia perkembangan anak tersebut.

 Gambar 3 karya made suta permana usia 9 tahun

 

Gambar 4 karya luh juniasih usia 9 tahun

 

Perubahan gambar dari masing-masing usia terdapat perbedaan yang sedikit karena prosesnya yang bertahap, proses peralihan objek gambar dari yang sederhana sampai yang rumit masih sedikit perubahannya seperti dua buah gambar diatas pada anak usia 9 tahun terdapat pola yang sama dengan anak usia 7 dan 8 tahun  baik dari segi pemilihan objek, tema, warna dan teknik, karena itu kita melihat bahwa tidak ada perbedaan gambar hasil karya anak-anak, padahal jiga diperhatikan terdapat beberapa eksplorasi dan imajinasi berbeda dari masing-masing usia pada gambar anak tersebut .

gambar anak adalah sebuah perujudan dari imajinasi anak tersebut dimana pada setiap usia anak memiliki ciri dari masing-masing karya mereka mulai dari yang sederhana sampai yang paling teliti itu semua berkembang sesuai perkembangan serta cara anak tersebeut mengeksplor lingkungannya dalam memunculkan ide dan imajinasi yang di wujudkan dalma sebuah gambar.

 

 

 

 

 

pengembangan peserta didik 6


Analisis gambar

Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni rupa anak-anak. Pertama, mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan senirupa anak menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak berdasarkan rentang usia yang relevan dengan teori yang telah kita pelajari.
Perkembangan pada anak memang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak bisa kita pungkiri mengingan masa pertumbuhan anak dipengaruhi juga oleh faktro lingkungan, keluarga, ppembawaan, makanan serta asupan gizi, dan lain sebagainya. Namun pada umumnya sebagian anak mengalami pola perkembangan yang sama sesuai yang dikemukakan oleh para ahli. Dengan menganalisis gambar anak kita bisa mengetahui apakah anak tersebut tergolong dalam anak yang kreatif atau justru mengalami kekurangan.

Gambar karya komang bagas jastin putra sena usia 3 tahun
 
 
             Kesenangan membuat goresan pada anak-anak usia dua tahun bahkan sebelum dua tahun sejalan dengan perkembangan motorik tangan dan jarinya yang masih menggunakan motorik kasar. Hal ini dapat kita temukan anak yang melubangi atau melukai kertas yang digoresnya seperti halnya gambar diatas dapat di lihat pengulangan obyek berupa lingkaran, penggunaan banyak warna adalah salah satu ciri antusias dan kreatifitas dari seorang anak dalam menggores. Goresan-goresan yang dibuat anak usia 2-3 tahun dalam mas mencoreng belum menggambarkan suatu bentuk objek. Pada awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan gerak motorik. Biasanya, tahap pertama hanya mampu menghasilkan goresan terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik anak yang masih mengunakan moRotik kasar. Kemudian, pada perekmbangan berikutnya penggambaran garis mulai beragam dengan arah yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar. Periode ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
            Ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan tak beraturan adalah bentuk gembar yang sembarang, mencoreng tanpa melihat ke kertas, belum dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi Corengan terkendali ditandai dengan kemampuan anak menemukan kendali visualnya terhadap coretan yang dibuatnya. Hal ini tercipta dengan telah adanya kerjasama antara koordiani antara perkembangan visual dengan perkembamngan motorik. Hal ini terbukti dengan adanya pengulangan coretan garis baik yang horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
            Corengan bernama merupakan tahap akhir masa coreng moreng. Biasanya terjadi menjelang usia Anak-anak memiliki jiwa bebas, ceria. Mereka sangat menyenangi warna-warna yang cerah misalnya dari crayon. Kesenangan menggunakan warna biasanya setelah ia bisa memberikan judul terhadap karya yang dibuatnya. Penggunaan warna pada masa ini lebih menekankan pada penguasaan teknik-mekanik penempatan warna berdasarkan kepraktisan penempatannya dibandingkan dengan kepentingan aspek emosi.
            Pada masa mencoreng, bila anak difasilitasi oleh orang tua maka akan memiliki peluang untuk melakukan kreasi dalam hal garis dan bentuk, mengembangkan koordinasi gerak, dan mulai menyadari ada hubungan gambar dengan lingkungannnya. Hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru pada masa ini adalah dengan memberi perhatian terhadap karya yang sedang dibuat anak sehingga tercipta kemampuan komunikasi anak dengan orang deswasa secara melalui bahasa visual.
             Usia anak pada tahap ini bisanya berada pada jenjang pendidikan TK dan SD kelas awal masuk pada Masa Pra Bagan usia 4-7 tahun  (Pre Schematic Period). Kecenderungan umum pada tahap ini, objek yang digambarkan anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki. Ciri-ciri yang menarik lainnya pada tahap ini yaitu telah menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris untuk memberi kesan objek dari dunia sekitarnya. Koordinasi tangan lebih berkembang. Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan objek, orang bisa saja berwarna biru, merah, coklat atau warna lain yang disenanginya.

Gambar 1 karya iluh setyani astuti usia 5 tahun
 
 
bagi sebagian orang gambar di atas dikatakan tidak bagus namun jika di lihat dari segi yang lain dapat dilihat terdapat banyak ekspresi dan cerita yang di tuangkan oleh anak ini pada saat menggambar seperti pemandangan gunung, rumahpohon gambar seorag gadis dan coretan lainnya, jika diperhatikan pola gambar yang di buat berbeda arah, itu semua dikarenakan pada saat menggambar anak ini memutar kertas sambil menggambar, disisi lain dalam hal pewarnaan masih kurang karena dalam pewarnaan hanya menggunakan beberapa warna seperti biru,merah,jingga, dan hitam, tapi anak ini tetap kreatif dalam hal menggambar.
Gambar 2 karya I made teguh angga patmawan usia 6 tahun
 
 

gambar ini bertema pemandangan yang umum di gambar, dimana jika diperhatikan ada sebuah pola menggambar yang  berbeda yaitu semua gambar relative lurus dan kaku itu semua dikarenakan dalam proses menggambar anak ini menggunakan penggaris untuk membuat objek pada gambar tersebut seperti pada gambar gunung, rumah, dan jalan. selain itu anak ini dapat dikatakan imajinatif karena membuat jalan bercabang 3 serta terdapat sebuah rumah kecil dan pot bunga di pojok kanan bawah, dalam hal pewarnaan masih sedikit dengan goresan masih acak.

 
Gambar 3 karya putu nita wulandari usia 6 tahun

 

tema gambar dunia laut dimana pada gambar ini menceritakan kehidupan ikan dan hewan lainnya yang tinggal di laut seperti kepiting , kerang, dan rumput laut. serta kehidupan di atas air yaitu burung yang berterbangan. pada gambar ini terdapat pengulangan pola pada objek ikan, kepiting, burung, dll. pada pola gambar ikan dan obyek lainnya dapat dilihat pengaruh orang dewasa karena anak sudah di ajarkan bahwa gambar objek ikan seperti itu, padaha jika tidak di ajarkan maka akan tercipta berbagai bentuk ikan yang beragam dan beraneka warna yang berfariasi , karena pegaruh orang dewasa ini gambar anak menjadi monoton serta objek dan warna yang minim.

 Gambar 4 karya yudi usia 7 tahun


Gambar 5 karya komang kurnia aristia putri usia 7 tahun


kedua gambar diatas memiliki tema yang sama yaitu pemandangan perbedaannya adalah pada warna dan objek yang di tampilkan, pada gambar pertama onjek yang di tampilkan lebih banyak bahkan menggambarkan 3 tempat yaitu gunung, rumah, dan laut bahkan terdapat sepasang anak di antara pot bunga.namun sayangnya tidak menggunakan warna hanya menggunakan pensil pada saat menggambar. yang menarik dari gambar ini pada objek kehidupan laut dan sekitarnya di berikan tulisan sebagai penjelas objek yang di gambarkan. kemudian gambar ke 2 mulai mengenal gradasi terlihat pada gambar awan dan matahari yang unik dari gambar ini adalah pola gambar pohon yang menyatu dengan gunung dengan ukuran yang hampir sama. namun warna yg di gunakan masih minim .

dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa pada gambar anak terdapat banyak objek yang menarik yang bisa kita perhatikan dan dari gambar tersebut kita bisa melihat perkembangan dari masing-masing anak dalam hal imajinasi serta kreatifitas,   selain itu yang perlu di ingat setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda ada banyak factor yang mempengaruhi seperti lingkungan, keluarga, teman  dan lain sebagainya.

 

Telaah kurikulum 5



Kurikulum  2006 (KTSP)
Mata Pelajaran Seni Rupa
SMP Kelas  VII Semester 1 dan 2







Oleh :
Putu Ari Widana
I Kadek Budiana

Cadex Agus Arya Gunawan
Pt Sumerta Adi Putra
Fitri Ayu Nurjannatin
Komang Marta Wira Miharja


JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
 
Pada bidang studi Seni Budaya dan Keterampilan berbasis kurikulum 2006 (KTSP) SMP kelas VII semester 1 dan 2 terdapat beberapa materi pokok diantaranya Seni Rupa, Seni Music, Seni Tari, Dan Seni Teater /Sastra/Drama. Dalam kesempatan kali ini kami akan menjelaskan kurikulum  seni budaya dan keterampilan hanya pada bidang seni rupa.
Untuk Kurikulum  2006 (KTSP) Mata Pelajaran Seni Rupa SMP Kelas  VII Semester 1 dan 2, adapun langkah-langkah pembahasan yaitu:
1.      Jenis dan bentuk kegiatan
2.      Cara melaksanakan
3.      Metode pembelajaran
4.      Indikator utama
5.      Persentase local, nasional dan internasional.
Jenis dan bentuk kegiatan
Untuk melihat jenis dan bentuk kegiatan Kurikulum  2006 (KTSP) Mata Pelajaran Seni Rupa SMP Kelas  VII Semester 1 dan 2, dengan melihat standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi pembelajaran. Dalam pembahasan kurikulum SMP, mencontohkan kurikulum dari sekolah SMP Muhammadiyah 2 Singaraja.

Sekolah                    : SMP Muhammadiyah 2 Singaraja
Kelas / Semester       : VII / 1
Mata Pelajaraan        : Seni Budaya ( Seni Rupa)

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Tujuan
Mengapresiasi Karya Seni Rupa
1.     Mengindentifikasi jenis karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Pengertian seni , cabang-cabang seni, unsur-unsur seni, sifat dasar seni secara umum.
·  Beragam jenis, bentuk, teknik pembuatan dan fungsi karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Membaca referensi tentang seni rupa daerah setempat
·  Mengklasifikasi seni rupa terapan daerah setempat
·  Siswa mampu mengidentifikasi karya seni rupa terapan daerah setepat
·  Siswa mampu mengidentifikasi beragam jenis, bentuk, teknik pembuatan, fungsi dan makna pada karya seni rupa terapan daerah setempat.
2. Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan teknik karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Mendiskusikan keragaman jenis, bentuk , fungsi  dan makna karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Menulis hasil diskusi tentang tanggapan terhadap keunikan karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Mempresentasikan hasil diskusi
·  Mendiskusikan keragaman jenis, bentuk , fungsi  dan makna karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Menulis hasil diskusi tentang tanggapan terhadap keunikan karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Mempresentasikan hasil diskusi
·  Siswa mampu mendeskripsikan beragam fungsi bentuk dan makna pada keunikan karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Siswa mampu membuat tanggapan tertulis tentang keunikan  karya seni rupa terapan daerah setempat
Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa
1. Menggambar bentuk dengan obyek karya seni rupa terapan tiga dimensi dari daerah setempat
·  Gambar bentuk benda kubistis dan silindris (teknik perspektif, teknik arsir, komposisi, gelap terang) penggunaan media dalam menggambar bentuk karya seni rupa daerah setempat
·  Membaca referensi
·  Membuat gambar bentuk benda kubistis dan silindris karya seni rupa daerah setempat
·  Siswa mampu membuat sketsa gambar benda silindris dan kubistis
·  Siswa mampu membuat gambar benda kubistis dan silindris dari karya seni rupa terapan daerah setempat
2. Merancang karya seni kriya dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
·  Karya seni rupa daerah setempat meliputi: pengertian benda pakai,benda hias antara lain dari segi motif, corak, teknik  dan sebagainya
·  Membuat desain karya seni kriya untuk benda pakai dengan teknik dan corak daerah setempat
·  Membuat  ukuran pada disain , menentukan bahan dan teknik pembuatannya
·  Siswa mampu membuat disain benda pakai dengan teknik dan corak daerah setempat
·  Siswa mampu menentukan ukuran, bahan dan teknik pembuatan benda pakai
3. Membuat karya seni kriya dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
·  Teknik-teknik pembuatan benda pakai
·  Corak-corak ragam hias daerah setempat
·  Membuat benda pakai dengan teknik dan corak daerah setempat
·  Membuat  hiasan pada benda pakai
·  Membuat benda pakai dengan memanfaatkan teknik  seni kriya daerah setempat.
·  Membuat  hiasan pada benda pakai dengan  corak seni rupa daerah setempat

Sekolah                    : SMP Muhammadiyah 2 Singaraja
Kelas / Semester       : VII / 2
Mata Pelajaraan        : Seni Budaya ( Seni Rupa)
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Tujuan
Mengapresiasi Karya Seni Rupa
1.     Mengindentifikasi jenis karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Mengumpulkan data berupa gambar contoh karya seni rupa terapan  daerah setempat
·  Mengidentifikasi  karya seni rupa terapan daerah setempat.
·  Mendiskripsikan karya seni rupa terapan daerah setempat berdasarkan teknik pembuatannya

2. Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan teknik karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Apresiasi karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Membuat kliping tentang karya seni rupa terapan daerah setempat
·  Membuat tanggapan tertulis dalam bentuk kliping tentang keunikan gagasan dan teknik karya seni rupa terapan daerah setempat
Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa
1.    Menggambar bentuk dengan obyek karya seni rupa terapan tiga dimensi dari daerah setempat
· Macam-macam jenis, bentuk, dan karakter hasil karya seni rupa terapan tiga dimensi daerah setempat
· Bentuk-bentukTopeng
·  Mengamati contoh-contoh karya seni rupa terapan tiga dimensi daerah setempat
·  Membuat gambar bentuk topeng
·  Membuat sketsa gambar topeng
·  Menggambar bentuk topeng dari daerah setempat
2.  Membuat karya seni kriya dengan teknik dan corak daerah setempat
·  Teknik pembuatan topeng
·  Corak ragam hias topeng dari daerah setempat
·  Membuat topeng dengan teknik dan corak daerah setempat
·  Membuat topeng dengan teknik dan corak daerah setempat

Cara melaksanakan
Cara pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran seni budaya untuk seni rupa adalah Kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
1.       kegiatan pendahuluan
a)      Apersepsi
Menurut kamus besar bahasa indonesia yang dimaksud apersepsi adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) dalam segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima  ide-ide baru. Misalnya  Guru Menyampaikan kompetensi dasar yang akan dicapai, atau Guru menjelaskan konsep atau pengertian dari materi yang akan disajiakan.


b)      Motivasi
Menurut Martinis Yamin, Motivasi adalah daya penggerak psikis  dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan dan pengalaman. Misalnya Guru melakukan Tanya jawab dengan siswa terkait dengan materi , konsep seni , dan menyampaikan manfaat pembelajaran.

2.       Kegiatan inti
§ Eksplorasi
Secara harafiah, eksplorasi berarti (1) penyelidikan,penjajakan, penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak (Tentang keadaan, terutama sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu.(2) kegiatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru dari situasi yang baru (KBBI, 2008:379).
§ Elaborasi
Elaborasi berarti penggarapan secara tekun dan cermat (KBBI, 2008 :387). Maka dalam suatu kegiatan pembelajaran, elaborasi kegiatan dimana siswa mengerjakan suatu tes secara cermat atau siswa menyimpulkan suatu konsep ilmu (Hasil Eksplorasi) secara cermat.
§ Konfirmasi
Konfirmasi diartikan sebagai pembenaran, penegasan dan pengesahan (KBBI, 2008 :746). Dalam pembelajaran, konfirmasi adalah penegasan kebenaran tentang suatu konsep berdasarkan rujukan resmi. Misalnya, menegaskan konsep yang disampaikan leh siswa dengan buku pelajaran yang resmi.

3.       Kegiatan Penutup
Adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menutup  kegiatan inti pembelajan . sebelum menutup kegiatan pembelajaran biasanya guru merangkum materi pelajaran yang telah disampaikan, mengajukan pertanyaan dan memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, menyimpulkan, memberikan tugas atau tes pada siswa dan melakukan penilaian/refleksi.

Metode pembelajaran
1.      Metode CTL ( Constextual Teaching and Learning)
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menetapkan ketujyh prinsip tersebut dalalm pembelajarannya. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaanya (Depdiknas, 2002)
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut :
1.      Kontruktivisme ( Contruktivism), kembangkan pemilkiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan car tersendiri, dan mengkrontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Inkuiri (inquiry), laksanakan sejauh mungkin inkuiri utuk semua topuk.
3.      Bertanya (Questioning), kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.      Masyarakat Belajar ( Learning Community), ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelmpok-kelompok).
5.      Pemodelan ( modeling), hadirkan model sebagai contoh pemodelan.
6.      Refleksi ( Reflection), lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.      Petemuan sebenarnya (Aubentic Assement), lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Indikator utama
                  Untuk mengetahui indicator utama yang dicapai mata pelajaran seni budaya  khususnya materi pokok untuk seni rupa yaitu melalui teori, praktek, apresiasi.

                  Teori dalam kegiatan pembelajaran
1.    Memberi penjelasan tentang seni rupa secara umum baik dari Pengertian seni , cabang cabang seni, unsur-unsur seni, sifat dasar seni secara umum.
2.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa sebelumnya harus mengetahui beragam jenis, bentuk, teknik pembuatan dan fungsi karya seni rupa terapan daerah dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat.
3.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa harus mengetahui definisi gambar bentuk benda kubistis dan silindris (teknik perspektif, teknik arsir, komposisi, gelap terang) penggunaan media dalam menggambar bentuk karya seni rupa daerah setempat dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat
4.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa harus mengetahui definisi Karya seni rupa daerah setempat meliputi: pengertian benda pakai,benda hias antara lain dari segi motif, corak, teknik  dan sebagainya dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat
5.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa harus mengetahui definisi dan mengidentifikasi Teknik-teknik pembuatan benda pakai  dan Corak-corak ragam hias daerah setempat sebagainya dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat
6.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa harus mengetahui definisi dan mengidentifikasi Macam-macam jenis, bentuk, dan karakter hasil karya seni rupa terapan tiga dimensi daerah setempat dan menganal Bentuk-bentukTopeng dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat
7.      Sebelum melakukan kegiatan praktek, siswa harus mengetahui definisi dan mengidentifikasi teknik pembuatan topeng corak ragam hias topeng dari daerah setempat dari teori materi yang disampaikan oleh Guru maupun buku paket dan media pembelajaran lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan daerah setempat

                  Praktek dalam kegiatan pembelajaran
1.    Mendiskusikan, menulis dan mempresentasikan tentang tanggapan keragaman jenis, bentuk , fungsi  dan makna karya seni rupa terapan daerah setempat.
2.    Siswa mampu membuat sketsa dan menggambar gambar benda silindris dan kubistis dari karya seni rupa terapan daerah setempat.
3.    Siswa mampu membuat disain benda pakai dengan teknik dan corak dan menentukan ukuran, bahan dan teknik pembuatan benda pakai daerah setempat.
4.    Membuat benda pakai dengan memanfaatkan teknik  seni kriya dan membuat  hiasan pada benda pakai dengan  corak seni rupa daerah setempat
5.    Membuat tanggapan tertulis dalam bentuk kliping tentang keunikan gagasan dan teknik karya seni rupa terapan daerah
6.    Membuat sketsa dan  menggambar teknik corak bentuk topeng dari daerah setempat.

                  Apresiasi dalam kegiatan pembelajaran suatu penilaian terhadap suatu karya seni, baik itu dengan mengenali amupun menilai karya seni
Untuk melaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut:
1.      mempelajari seni rupa melalui sumber-sumber seperti buku pelajaran, Koran, majalah, film (Pertunjukan)  dan lain sebagainya termasuk pemanfaatan kerajinan daerah setempat.
2.      Mengenali dan menilai jenis-jenis, bentuk, fungsi, corak ragam hias karya seni rupa terapan daerah setempat
3.      Mengenali dan menilai pembuatan dan ragam hias topeng seni rupa terapan daerah setempat.

Persentase local, nasional dan internasional.
Menurut kelompok kami Persentase local dari kurikulum KTSP Seni Budaya kurang lebih 80%, karena pada struktur kurikulum KTSP lebih dominan dan lebih menekankan keragaman dan karakteristik daerah lingkungan. Untuk 20 % persentasi nasional dan internasional sebagai perbandingan dan menambah wawasan tentang daerah lingkungan luar. Misalnya : Potensi lokal daerah Jepara, sebagai produsen ukiran kayu, dapat dijadikan sumber belajar pada mata pelajaran seni budaya (seni rupa).




Pertanyaan dan jawaban
1.      Pertanyaan 1, oleh Kusuma Dewi
Apakah ada jalan untuk mewadahi anak-anak agar mengetahui seni dari dari luar daerah mereka?, jika ada, melalui apakah guru atau staf pengajar mewadahi hal tersebut?

Jawaban, Oleh kelompok :
Ada,
a.       Dengan cara memberi media dan bahan ajar lainnya yang bersangkutan dengan daerah luar, seperti buku pelajaran, koran, majalah,kliping, brouwsing mengenai seni dari luar daerah setempat.
b.      Dengan cara ”study banding” mengunjungi daerah tempat lainnya, biasanya setiap tahun sekali beberapa sekolah mengadakan ”study banding” ke tempat daerah lain dan kegiatan itu digunakan untuk menambah pengalaman dan wawasan tentang seni daerah luar.

2.      Pertanyaan 2, oleh Nurul iman
Apakah yang dimaksud dengan CTL?

Jawaban, oleh kelompok
Metode CTL ( Constextual Teaching and Learning)
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menetapkan ketujyh prinsip tersebut dalalm pembelajarannya. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaanya (Depdiknas, 2002)
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut :
1.      Kontruktivisme ( Contruktivism), kembangkan pemilkiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan car tersendiri, dan mengkrontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Inkuiri (inquiry), laksanakan sejauh mungkin inkuiri utuk semua topik.
3.      Bertanya (Questioning), kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.      Masyarakat Belajar ( Learning Community), ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelmpok-kelompok).
5.      Pemodelan ( modeling), hadirkan model sebagai contoh pemodelan.
6.      Refleksi ( Reflection), lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.      Petemuan sebenarnya (Aubentic Assement), lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

3.      Pertanyaan 3, Oleh Kholilolloh
Misalnya beberapa desa yang memiliki karya seni untuk anak-anak seperti pedang-pedangan, pistol pistolan dan mainan anak lainnya, dengan menggunakan benda  yang mudah didapat ( Bahan Alami). Apakah karya seni tersebut bisa digunakan untuk kompetensi dasar?

Jawaban, oleh kelompok
Mainan anak-anak seperti pedang-pedangan dan pistol- pistolan maupun mainan lainnya yang terbuat dari bahan alami, bahan alami yang digunakan dalam pembuatan mainan tersebut akan berasal dari tempat daerah anak-anak bermain. Dalam kegiatan bermain biasanya anak-anak sering membuat alat mainan tersebut dengan bahan-bahan yang ada di daerah tempat tinggalnya. Misalnya pelepah pisang, kayu dan lain sebagainya. Jadi bisa dikatakan bahwa mainan yang digunakan anak tersebut termasuk dalam kompetensi dasar. Kompetensi dasar yang ada dalam kajian diatas merupakan kajian yang berhubungan dengan karya seni rupa daerah setempat.

4.      Pertanyaan 4 oleh Komang Juliawan.
Apakah sumber KTSP SMP berasal dari sekolah atau dari nasional?

Jawaban oleh kelompok
Pengembangan silabus disusun dibawah supervise dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab dibidang pendidikan untuk SD dan SMP,dan dinas profensi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SMA dan SMK.

5.      Pertanyaan 5 oleh Dwitra N. Artista
Apakah tujuan pemilihan kesenian daerah untuk pembelajaran hanya untuk orang luar yang berdomisili disekitar sekolah tertentu, apakah supaya sekedar tahu dan apakah ada kelanjutan untuk daerah lainnya?

Jawaban oleh kelompok
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memiliki stressing yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Perbedaan tersebut terlihat pada penekanan keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Dalam Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa: Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.
Maka dari itu orang luar yang belajar di daerah dalam, maka orang tersebut harus menyesuaikan kesenian daerah tempat. Apalagi seni budaya termasuk dalam pelajaran muatan local, untuk mencari perbedaan maupun perbandingan yang pastinya membutuhkan daerah luar untuk pemahaman tambahan akan tetapi pendidikan lingkungan daerah yang lebih dominan diajarkan.

6.      Pertanyaan 6, oleh Rido Amriadi
Apakah KTSP yang dijelaskan tadi, hanya berlaku dan diterapkan  untuk satu daerah lingkungan sekolah?

Jawaban oleh kelompok:
Sama halnya dengan jawaban pada pertanyaan no. 5, KTSP lebih menekankan keragaman dan karakteristik daerah lingkungan. Muatan lokal menjadi salah satu isi KTSP, ia tidak saja dalam wujud pokok bahasan tetapi sampai pada mata pelajaran baru. Ini dalam rangka menciptakan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Membangun keunggulan lokal yang berdaya saing global boleh dikatakan merupakan merek dari KTSP. Jadi KTSP hanya berlaku pada masing-masing daerah itu sendiri.

7.      Pertanyaan 7 oleh Destiara Aulia Citra
Bagaimana cara kerja KTSP SMP dalam proses mengajar yang dilihat dari pembagian struktur kurikulum, mata pelajaran dan beban pelajar.?

Jawaban oleh kelompok.
Untuk strukur kurikulum KTSP SMP tidak ada bedanya dengan struktur kurikulum SD dan SMA, yang membedakan hanya pada pembagian Jam Mata pelajaran. Dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran dan  berdasarkan struktur kurikulum yang terkait telah sesuai dengan alokasi waktu yang telah di tentukan secara umum yaitu: Agama 2 jam, PKN 2 jam, Bahasa Indonesia 4 jam, Bahasa Inggris 4 jam, Matematika 4 jam, IPA 4 jam , IPS 4 jam, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 2 jam, Keterampilan 2 jam, Muatan Lokal 2 jam dan jam wajib tambahan 4 jam. Kelebihan dari KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20 % di banding dengan kurikulum 2013. KTSP mempunyai (32 jam wajib +4 jam tambahan), sedangkan kurikulum 2013 (38 jam wajib + 2 jam pelajaran)